Banci aku datang…

Mama: Bosan aku bosan….di sini mulu, tiap ari gini-gini aja…

Papa: Ngga bosan sama aku kan tapi? 😛

Mama: Bosan..

Papa: Apa???? #*!####!!

Mama: #%&@#$%^@!!!!

Cece: SAYA JUGA BOSAN!!!!

Papa dan Mama: Berhenti *#%^&@ dan menoleh ke cece, kami juga bosan punya anak kaya kamu.

Cece: What???!! #^&@!%

Sebagai adik yang bijaksini dan mengharapkan keluarga di desa memiliki kehidupan yang bahagia dan terhindar dari pertengkaran super gak penting yang akar masalahnya jelas “bosan di desa “ (suruh siapa coba memilih tinggal di desa??! “Bisnis kan di sini, memangnya kamu makan selama ini pakai apa??”, bentak mama. “Pakai tangan dunkk”, kata saya), maka saya mengajukan solusi praktis dan tepat sasaran kepada mereka. Yuk Liburan 🙂

Setelah browsing-browsing di internet, akhirnya saya memutuskan bahwa kami akan pergi ke Phuket, Thailand minggu depan! Yey! Proses untuk sampai pada tahap “holiday” setelah saya bekerja memang lebih rumit daripada dulu waktu masih sekolah.

Langkah satu: Mencari paket free and easy yang sesuai. Menemukan yang sesuai, menanyakan harga, mencatat-catat, menutup telepon dan mempertimbangkan. Kok mahal ya? Mencoba menghitung-hitung kalau pergi sendiri saja berapa, telepon sana sini. menemukan angka. Saat mau membandingkan, lho catatannya ilang yang dari travel. Telepon travel lagi, menyebutkan waktu dan pilihan hotel lagi, kok rasanya harganya beda. Siapa yang salah? Lho! Saat mau membandingkan dengan angka hasil itungan pergi sendiri, lho kok catetannya ilang lagi. Menghitung lagi kok angkanya beda lagi. Aaaarrgghhhh….Why I feel like when I am doing research???

Langkah dua: Setelah menemukan angka yang sesuai (dengan mencari rata-rata, akhirnya menerapkan prinsip eksperimen) Maka saya melaporkan hasil riset kepada keluarga tercinta di desa. Sedikit kebabutan terjadi saat papi salah mengerti bahwa tarif dalam SGD dan bukan USD hingga mama berteriak “KENAPA MAHAL SEKALI KE THAILAND SAJA?? TIDAK USAH PERGI!!” Setelah dijelaskan duduk perkaranya dengan kepala dingin bahwa segala macam angka dalam SGD dan bukan USD, maka mama pun mengerti, “Oh murah juga, ya sudah teruskan” Phew…

Langkah tiga: Membayar ke travel harga yang disepakati dan menangis sejenak di depan mesin ATM melihat tabungan yang berkurang dengan cukup signifikan. Berharap dalam hati orang tua akan berbaik hati mengganti uang tabungan namun mensyuhkan pikiran itu setelah mengingat kebaikan orang tua selama dua puluh tahun belakangan ini. Kasih mereka priceless. Masa cuman segini saja itung-itungan. Anak durhaka. Namun tetap saja setelah itu masih terkaget-kaget setiap kali melihat saldo tabungan (lebai mode on).

Langkah empat: Minta cuti ke Professor A, B, C, dan D. Serta Postdoc E, F, dan G. Hahaha..berelebihan diriku. Tapi intinya memang minta ijin ke agak banyak orang. Jawabannya macam-macam:

Profesor sibuk: “When? Next two week? Ok, anyway I am not here. Have a nice holiday.

Profesor easy going: Sure, just go and have fun with your family 🙂

Postdoc reseh: Hah? holiday? So much money a, next week got new setup you know…why must go? later lah december.

Postdoc geje: I am going to German next week. Do you want to replace me? But let me go with your family, and bring my two year old kids…hihi.

Langkah lima: Kasih tau pacar bahwa keluarga akan datang dan mempersiapkan pacar secara mental serta fisik (siapa tau papa saya mengajak adu panco, main tenis, atau basket nanti). Hal ini sangat diperlukan agar tidak sampai terjadi culture shock antara Jawa Timur dan Jakarta, antara desa dan kota, antara keluarga keturunan perompak dan manusia keturunan priyayi, dan yang paling penting antara keluarga berbahasa jawa kampung dan manusia jawa-jawaan..

Sekian, Thailand I am coming next week 🙂

Advertisements

Gado-gado kemerdekaan

Gado-gado emang makanan yahud, apalagi yang ala jawa timur. Ada telor, tahu, lontong, kecambah (yang saya gak gitu doyan), tidak lupa krupuk mlinjo dan krupuk udang. Belum lagi siraman bumbu kacang. Ditambah sambel dikit, bikin nangis tapi rasanya makin mantap. Nyam-nyam deh pokoknya. Hehe..

Hidup saya di bulan Agustus ini rasanya seperti gado-gado. Banyak kisah-kisah terjadi dalam setiap segi kehidupan, ada yang menyenangkan ada yang tidak, tetapi secara keseluruhan saya masih menikmati, seperti makan gado-gado ( ala jawa timur :p).

1. Start a relationship. Haha..heboh amat saya, ampe tiap post isinya ini. Tapi biarin deh, pertama kalinya pacaran, excited donk. Hal pertama yang bikin saya agak surprised adalah dampak sosial dari relasi ini yang ternyata mengurangi angka pengangguran (aduh geje). Maksud saya, karena common friend saya dan dia banyak bedanya, jadi kami saling mengenalkan teman-teman dekat satu sama lain. Tiba-tiba banyak acara sosial dengan berbagai bentuk dari kondangan, reuni, maupun kumpul-kumpul aja.

2. Beberapa teman-teman saya tiba-tiba mengalami stress related problem dengan berbagai macam kadar. Saya sendiri jadi lumayan affected, black sector activated gitu deh. Saya berharap saya bisa membantu dengan share pengalaman serta support. Tapi tentu saja yang paling penting adalah mendoakan.

3. Keluarga saya sedang berjuang di desa sono menghadapi bulan puasa. Senang sih, karena berarti pendapatan naik. Tapi, komunikasi jadi kurang lancar karena mereka lagi sibuk. Saat saya mengabari sudah jadian lewat sms, jawaban papi saya keesokan harinya adalah “Jadi apa? Kemarin sibuk sekali di toko. Bla2…” Hiks2, rupanya orang tua saya tidak paham kata jadian. Jangan-jangan dikira ketemu makhluk jadi-jadian =.=

4. Nemu paper yang sama dengan approach saya. Setengah senang karena paper itu mengurangi kekhawatiran project saya tidak bisa dilakukan dan menambah keyakinan bahwa pendekatan project saya cukup masuk akal. Setengahnya lagi jadi merasa ada saingan dan tekanan untuk jadi lebih inovatif.

5. Mencoba mengadakan eksperimen IPA untuk mbak-mbak tutoring. Responnya lumayan, meskipun saya sempat mengubah nada suara jadi sheng diao ke 4 selama setengah pelajaran gara-gara pada ribut. Mengalami kesenangan tersendiri juga sewaktu ada mbak-mbak yang bilang lumayan paham waktu saya mengajar. Waw, jadi ini toh pleasure sebagai guru. I seldom say thank you to my primary and secondary teachers. =.=

6. Dirgahayu Indonesia!! I love Indonesia with whatever condition it has. But of course it has to improve. Happy independence day also to Singapore, my second home country 🙂

Ok, sekian gado-gado bulan Agustusnya. Hahaha..