Gambling

Went to casino today, and win 50 % of the money I invested (it’s just 20 bucks). I win in my first bet, and after winning I quickly went out of the casino. Run away from temptation!! Haha.. my father called it “menang mblebet”. I don’t really understand what he means, but I think he refer to something like “run away after winning”. Now I can understand a bit why people can be so addicted to gambling. I acknowledge that the feeling of winning the bet is very hillarious, plus you can see that your money can be doubled very quickly and easily (by just guessing pictures, numbers, etc). For a short while, I even think that it might be a nice way to earn money. Hahaha…

After all, stay away from gambling!! Except you are the one who open the casino, I don’t think there will be any real financial benefit from gambling 🙂

Advertisements

In His Time

Hoho…posting this post because Mr. Indra Kristanto kept on saying “in His time” during a chat session with me. He has reminded me that I have always wanted to write about this topic, but keep on delaying to write it.

Well, I wasn’t really understand what it means by “in His time” before, until I experienced it myself. Last year I was led (or feel like being forced? as I never had that plan on my mind) to go back to Indonesia. It was not a wholly pleasant experience for me, even the other way round,  but I couldn’t deny that it was fruitful and exciting. Haha…even when I try to check and see it objectively.

Last year I was in this ulu little town called Mojokerto, trying to build a shop, buying and selling clothes, being cheated by shop assistant, arguing with some construction workers, etc. What bother me was only the welfare of my staffs, how to make profit, how to attract customer, and build the shop as fast as possible. And today, here I am in Singapore, pursuing Phd, thinking about atoms, electrons, and complicated chemistry as if they are the most important things in this world. It was a big contrast in my life, but I enjoy that so far. I think God has let me go back to Singapore after I have learned what I need to learn in Indonesia.

This experience makes me believe in God more, though I am sure sometimes I will doubt Him, especially when life is sucks. But I’ve got one extra reason to believe in God’s way and plan after my adventure last year.He will make things good in His time, yes I believe it. Actually, this believe has been resulted in hope that has kept on motivating me during difficult time.

I remember last year my FYP supervisor ask me after my graduation, ” Olivia, what’s your plan?” (He more or less know my condition at that time) and I was only able to reply him, “No plan this time, Sir. My plan is only to walk and see how it goes”. Luckily he is wise enough not to make me become more kanciong by forcing me to make a plan.

When I look back and see, I know that God is good and His plan is above my plan. Even when I have no plan, He still led me to follow His plan. He has directed me somehow in His way and for that I only can say, “Thank you”.

Subuh

Seperti apakah cerita akan digubah
Oleh Yang Maha Pencipta?
Siapa sangka akan berjumpa
Bersua, bercanda, lalu berpisah

Takut….saat sudah habis masaku
Dan hanya kenangan yang tersisa
Buku yang sudah tertutup
Diperkenankah kubuka lagi?

Tak berhenti kumenatap
Terpaku pada saat itu
Teringat berulang dan berulang lagi
Namun nihil, kosong, hanya berkelontangan
Apakah waktu yang akan menjawab?

Interpretasi jayus:

Paragraf 1: ambil subject, teaching-learning process. Tiba-tiba sudah week 13.

Paragraf 2: kehabisan waktu belajar, exam sudah mau mulai :p. Tidaaaakkk…!!

Paragraf 3: Gw udah baca berulang kali, inget tempat tulisan itu di mana tapi kok lupa apa isinya yaaaaaa…huhuhu.

Interpretasi asli:
Hanya pengarang yang tahu.

Cita-cita

Susan susan kalau gede mau jadi apa?
Aku kepengen pinter, biar jadi dokter

Cita-citaku kepengen jadi dokter..
Cita-citaku kepengen jadi insinyur..

Lagu anak-anak yang familiar, atau enggak? Kalau enggak, digugel aja trus didengerin. Hoho..

Sewaktu kecil, memang rasanya mudah untuk mengatakan apa cita-cita kita. Hal itu masih jauh di depan, entah berapa tahun lagi. Jadi, bermimpi saja lah sesuka kita. Tidak akan ada yang melarang. Gantungkan cita-cita setinggi langit pokoknya. Mau jadi dokter, peragawati, bahkan presiden, silakan…

Setelah bangku sekolah menengah, alias SMA, cita-cita mulai menjadi sesuatu yang lebih nyata.Kita mulai memasuki tahap mencapai cita-cita, bukan lagi sekedar memimpikannnya. Kita juga jadi mulai melihat keadaan, contoh paling mudahnya, nilai sekolah kita. Apakah cukup untuk masuk jurusan yang kita inginkan? Universitas yang kita inginkan? Jika tidak, apa yang harus kita lakukan? Mengubah mimpi kita? Atau mencari jalan lain untuk mencapai cita-cita?

Selepas dan sewaktu kuliah, biasanya terjadi banyak perubahan. Ada yang sudah mengubah cita-citanya di tengah-tengah masa kuliah, ada yang setelah masuk ke dunia kerja, menemukan hal lain yang lebih menarik untuk dirinya dan akhirnya memiliki cita-cita yang lain. Namun tak sedikit juga yang masih menyimpan mimpi masa SMA nya, atau bahkan masa kecilnya. Setelah mulai bekerja, kita mulai mendapat titel-titel sesuai pekerjaan yang kita pilih atau terpilih. Product engineer, assistant accountant, financial analyst, research assistant, etc. Setelah mendapatkan pekerjaan itu, apa yang harus kita mimpikan lagi? Inilah salah satu hal yang sempat membuat saya pusing.

Jujur selama hampir satu semester pertama memasuki kehidupan Phd, saya agak kehilangan arah. Lebih tepatnya, saya tidak tahu apa yang harus saya cita-citakan. Setelah kira2 4 taun mengikuti pendidikan Phd ini, saya tidak mempunyai bayangan harus menjadi seperti apakah saya? Tentu saja setelah berproses selama beberapa tahun, seharusnya ada pertumbuhan, setidaknya dalam bidang pengalaman dan keahlian. Namun selain itu? Apakah saya perlu melewatkan beberapa tahun ini bekerja keras demi selembar kertas sertifikat dan segepok thesis?

Atau apakah saya harus berorientasi pada hasil? Mencoba menerbitkan paper dan patent sebanyak-banyaknya? Rasanya itu agak tidak masuk akal juga bagi seorang murid Phd untuk mengejar hal-hal seperti itu. Skillnya belum ada juga. Kenaikan gaji? Kok rasanya kurang banyak naiknya sampai harus dikejar. Hahaha..Nilai bagus? Memang perlu untuk membuat scholarship terus jalan.

Akhirnya saya hanya mensiasati diri dengan memberi motivasi-motivasi yang sifatnya temporal, excitement project baru, deadline, meeting dengan professor, self-reward, bahkan gara-gara sungkan ke prof kalau kerjaan jelek. Dengan kata lain, go with the flow, drifting with the current, fly with the wind, whatever. Tidak ada yang komplain dengan pekerjaan saya, tapi juga kualitasnya datar-datar saja, nothing special. Saya merasa saya benar-benar butuh sesuatu yang personal dan mengena bagi diri saya, untuk memotivasi saya selama Phd ini. Oh no, apa donkkk?

Banyak alasan yang sudah coba saya berikan pada diri saya mengapa saya harus Phd di Singapura, di NTU lagi dan lagi-lagi di MSE. Kenapa Singapura? Karena dekat dengan Indonesia, dan keluarga saya masih berada dalam situasi yang membutuhkan saya sewaktu-waktu. Ini adalah alasan terbesar kenapa saya memilih Phd di Singapura meskipun sebenarnya secara personal saya sudah pengen minggat dari negara ini karena sudah bosan.Pprofesor yang saya temui di NTU-MSE juga memiliki project yang sesuai dengan minat saya, di samping itu, saya mendapat kesempatan untuk membayar utang kerja dengan pemerintah Singapura dengan menjadi Project officer. Ini adalah kesempatan yang bagus bukan? Bahkan saya jadi mencari-cari alasan yang sedikit absurd, contoh: Jadi Phd supaya anak saya nanti bangga punya mama seorang Phd. Haha..

Namun, tetap saja saya merasa demotivated dengan semua itu. Ada sesuatu yang kurang, yang membuat saya tidak bisa memberikan seluruh diri saya pada pekerjaan ini. Entah apa sebabnya, otak dan tubuh saya mungkin bekerja seperti biasa, tapi hati saya belum benar-benar ada di Phd ini. Hal ini cukup aneh, dan tidak pernah terjadi pada saya sebelumnya selama saya masi bersekolah dan melakukan hal-hal lain. Sembari berusaha mencari apa penyebab saya jadi seperti ini, saya juga berdoa kepada Tuhan supaya menunjukkan jalan agar saya bisa bekerja dengan penuh semangat dan totalitas dalam pekerjaan ini.

Saya rasa akhirnya Tuhan menjawab doa saya. Jawaban ini berasal dari seorang post doc, yang baru akan bergabung ke grup kami. Saat ngobrol-ngobrol, dia mengatakan bahwa tujuan Phd adalah mendidik orang menjadi independen researcher, menjadi seseorang yang bisa memulai research dari nol sendiri dengan bekal cara berpikir dan kemampuan analisis. Tidak hanya jadi researcher yang mencampur-campur bahan di lab karena disuruh bos.

Kata-kata independent researcher (tampaknya jadi independent traveler lebih gampang :P) inilah yang jadi begitu mengena kepada saya dan akan mulai saya jadikan sebagai salah satu cita-cita saya selama menjalani pendidikan Phd ini. Bukankah ini adalah suatu reward yang bisa saya bawa seumur hidup bahkan setelah lulus Phd? Hal inilah yang akan memperlengkapi saya secara personal juga. Bagaimana menjadi orang yang tidak takut menghadapi hal yang baru dengan bekal kemampuan analisis?Memang banyak yang harus saya pelajari tentunya selama beberapa tahun ini demi mencapai hal itu, namun let’s try and see how it goes! Semoga impian saya ini bisa membuat saya terus termotivasi!

Exam nak exam…jangan mimpi jauh-jauh exam mu Rabu itu diurusin. Lolz.